Di dalam berasuransi, ada hal-hal pokok yang harus diperhatikan agar pelaksanaan asuransi menjadi lebih lancar.
Apa saja itu? Berikut 6 hal yang perlu diperhatikan:
1. Dilindungi oleh hukum
Hak
untuk mengadakan asuransi antara pihak tertanggung (penerima asuransi)
dan pihak penanggung (perusahaan asuransi) ini diakui oleh hukum.
2. Kejujuran kedua belah pihak
Kejujuran
adalah sebuah hal mutlak dalam sebuah perjanjian. Kejujuran ini
berkaitan dengan pelaksanaan dalam berasuransi nantinya. Bagi
tertanggung wajib memberikan keterangan yang jelas dan jujur mengenai
obyek yang akan dipertanggungkan. Misalnya saat mengambil asuransi
kesehatan, maka diberikan data apa saja penyakit yang diderita dan apa
saja penyakit yang bisa ditanggung. Begitu juga dengan asuransi
kerugian. Jika memberikan data yang lengkap, maka perusahaan asuransi
akan lebih leluasa dalam menata nasabahnya. Sehingga saat ada klaim,
maka klaim tersebut akan bisa langsung cair.
3. Kewajiban membayar premi
Seperti yang sudah dikatakan, no premium no insurance, maka
tidak ada premi tidak ada asuransi. Di sini pihak tertanggung harus
membayar premi. Di pihak penanggung akan menyediakan dana kompensasi,
khususnya jika kerugian itu terjadi pada tertanggung.
4. Waspada dengan kerugian
Pihak
penanggung tentu saja sudah memberikan kerugian apa saja bagi pihak
tertanggung untuk bisa ditanggung. Perusahaan asuransi juga akan
membeberkan secara jelas.
5. Klaim
Jika ada kerugian, maka
pihak perusahaan asuransi akan mengecek apakah kerugian tersebut sesuai
dengan perjanjian awal. Jika sesuai, maka klaim akan dicairkan dan
dibayar sesuai kesepakatan. Di sini ada pengalihan hak antara pihak
tertanggung kepada penanggung.
6. Kontribusi
Pihak
penanggung memiliki hak untuk mengajak penanggung yang lain untuk
menanggung bersama-sama. Namun, kewajiban ini memberikan kompensasi
terhadap tertanggung tidak harus sama.
sumber : kompas
Jumat, 08 Februari 2013
Jenis-jenis Asuransi Jiwa
KOMPAS.com - Seringkali kita sebagai konsumen hanya
manggut-manggut mendengarkan penjelasan agen asuransi yang menawarkan
produknya. Sebagian besar agen menawarkan produk yang dijualnya, bukan
produk yang kita perlukan. Masalahnya, sering juga konsumen tidak
mengerti dan tidak paham benar produk asuransi apa sebenarnya yang dia
perlukan.
Pengetahuan dasar mengenai jenis-jenis asuransi jiwa
saja terkadang membuat pusing. Masih banyak konsumen yang tidak dapat
membedakan antara produk tradisional dengan produk non tradisional.
Sementara penjelasan para agen juga sekadarnya saja, belum benar-benar
memenuhi dahaga keingintahuan para nasabah. Sebaliknya, nasabah juga
perlu lebih banyak bertanya dan memiliki pengetahuan tentang asuransi.
Mengenai
jenis-jenis asuransi, di Indonesia, jenis asuransi terbagi menjadi dua
jenis besar, asuransi tradisional dan asuransi nontradisional.
Asuransi tradisional terbagi menjadi tiga jenis. Asuransi termlife (berjangka), whole life (seumur hidup), dan endowment (dwiguna).
Ada baiknya meluangkan waktu sejenak untuk memahami lebih jauh jenis-jenis asuransi ini.
Asuransi Termlife (berjangka)
Asuransi berjangka hanya memberikan proteksi dalam jangka waktu
tertentu saja. Proteksinya bisa sesingkat naik pesawat dari Jakarta ke
Semarang selama kurang dari dua jam atau selama 20 tahun. Ciri khasnya,
ada batas waktu proteksi asuransi. Selain itu, jika tidak terjadi
risiko, uang asuransi tidak dikembalikan atau hangus.
Asuransi
jenis ini memiliki premi paling murah di antara asuransi lainnya. Uang
pertanggungannya pun bisa besar, mencapai miliaran dengan premi yang
tidak terlalu menguras isi kantong. Asuransi jenis term life tidak
memiliki nilai tunai. Jika pada masa berakhirnya kontrak asuransi si
tertanggung masih sehat walafiat, kontrak berakhir dan tidak ada uang
yang diberikan kepada tertanggung.
Banyak orang yang tidak
menyukai produk ini karena tidak ada uang yang dikembalikan ketika masa
kontrak berakhir dan nasabah sehat wal afiat. Aneh memang, ada orang
yang tidak bersyukur karena telah dikaruniai kesehatan dan umur panjang.
Sebenarnya asuransi jenis term life ini bisa dianalogikan dengan
menyewa seorang petugas satpam selama satu malam untuk menjaga rumah
dengan harta benda berlimpah. Jika tidak terjadi kemalingan pada malam
itu, apakah kita dapat menarik kembali gaji si petugas satpam pagi hari
berikutnya? Bukankah kita harus bersyukur karena rumah kita aman?
Karena
uang pertanggungan yang besar, untuk membeli premi asuransi jenis ini
pun tidak terlalu mudah. Sebagian besar perusahaan asuransi yang
menjual asuransi jenis ini mewajibkan nasabahnya menjalani pemeriksaan
kesehatan terlebih dahulu sebelum membeli polis dengan pertangungan
misalnya sebesar Rp 2 miliar.
Jika tidak lolos pemeriksaan,
nasabah tidak diperkenankan membeli asuransi jenis ini. Atau mungkin
saja uang pertanggungan diturunkan menjadi lebih kecil.
Premi
asuransi ini jauh lebih kecil ketimbang premi yang harus dibayarkan jika
membeli produk unit link. Banyak perencana keuangan yang menyarankan
jika membeli produk asuransi jenis ini sebaiknya dibarengi dengan
membeli reksa dana. Pasalnya, ketika masa asuransi berakhir dan
tertanggung sehat tidak ada uang pertanggungan yang diberikan.
Sehingga
jika dikombinasikan dengan reksa dana, pada saat berakhirnya
pertanggungan dana pengembangan investasi dari reksa dana sudah cukup
banyak. Kombinasi asuransi berjangka dan reksa dana, akan menghasilkan
investasi yang jauh lebih tinggi dibandingkan dengan membeli unit link.
Dengan membayar premi yang sama, uang pertanggungan juga jauh lebih
besar.
Satu hal yang diperlukan adalah kedisiplinan setiap bulan
untuk menabung di reksa dana setiap bulannya agar mendapatkan manfaat
dan hasil maksimal.
Asuransi whole life (seumur hidup)
Setelah mengenal term life, ada pula jenis kedua yang disebut whole life.
Asuransi
ini mengandung nilai tabungan. Masa proteksinya pun lebih panjang,
hingga mencapai 99 tahun. Asuransi ini disebut sebagai penyempurnaan
asuransi term life yang tidak memiliki nilai tunai. Anda tentu ingat
bahwa jika tidak terjadi risiko meninggal, pada masa akhir kontrak
asuransi berjangka si nasabah tidak mendapatkan apa-apa ?
Nah,
untuk memuaskan nasabah yang berkeluh mengenai asuransi berjangka, pada
asuransi whole life, ketika kontrak berakhir dan tertanggung masih sehat
walafiat, ada nilai tunai yang diberikan. Risikonya, premi yang
dibayarkan lebih mahal karena risiko klaim pasti terjadi. Jarang ada
orang yang sehat sampai usia 99 tahun kan? Di Indonesia, angka harapan
hidup laki-laki 65 tahun dan perempuan 70 tahun.
Nilai tunai
polis whole life dapat dijadikan agunan pinjaman dan ada bonus dividen
dari perusahaan bagi pemegang polis whole life. Selain itu, jika tidak
dapat membayar preminya, pemegang polis dapat mengambil dana dari nilai
tunai ini. Fitur ini tidak ada pada jenis asuransi term life.
Pertanyaan
selanjutnya, berapa uang yang akan saya dapatkan ketika masa asuransi
berakhir kelak? Biasanya para agen asuransi memberikan ilustrasi pada
usia sekian puluh tahun akan keluar dana sekian ratus juta. Sekali lagi,
jangan silau oleh ilustrasi yang menayangkan angka berjuta-juta. Angka
itu terlihat besar pada saat ini, sementara inflasi terus menggerus
nilai uang dan pada saatnya kelak, beberapa puluh tahun dari sekarang,
dana sebesar itu sebenarnya tidak terlalu besar.
Penyebabnya,
dana itu hanya dikembangkan dengan imbal hasil sebesar 4 persen saja per
tahun. Jauh lebih rendah jika dibandingkan dengan tingkat suku bunga di
pasaran. Imbal hasil sebesar itu masih belum dipotong biaya dan pajak.
Di
sisi lain, laju inflasi riil mencapai 12 persen. Sehingga nilai tunai
asuransi whole life akan tergerus inflasi dan nilainya tidak sebesar
ketika ilustrasi disodorkan kepada para calon nasabah. Bisa jadi, ketika
polis jatuh tempo, nilai tunai ini menjadi sangat kecil sekali.
Biaya
premi yang harus dibayarkan untuk mendapatkan pertanggungan sebesar Rp 1
miliar misalnya, akan jauh lebih besar jika dibandingkan dengan biaya
premi yang harus dibayarkan jika Anda membeli asuransi berjangka.
Bagaimana perbedaannya, dapat dilihat pada tulisan mengenai perhitungan
premi asuransi.
Asuransi endowment (dwiguna)
Jenis asuransi tradisional ketiga adalah endowment. Jenis ini bersifat seperti asuransi berjangka juga sebagai tabungan.
Produk ini amat populer sebelum muncul produk unit link. Bentuk asuransi endowment
beragam. Selain memiliki nilai tunai, ada juga dana yang dikeluarkan
secara berjangka sebelum masa kontrak asuransi berakhir. Dana ini keluar
secara berkala misalnya 3 tahun sekali atau 5 tahun sekali. Misalnya
seperti asuransi pendidikan yang mengeluarkan dana ketika si anak
berusia 5 tahun untuk biaya masuk TK, 7 tahun untuk biaya masuk SD dan
seterusnya.
Sayangnya, premi asuransi endowment ini jauh lebih mahal dibandingkan dengan premi asuransi berjangka maupun whole life.
Belakangan,
pamor asuransi jenis endowment ini memudar seiring dengan munculnya
produk-produk unitlink. Selain itu karena royal memberikan bonus, biaya
asuransi endowment justru memberatkan perusahaan asuransi.
Setelah membahas tiga jenis asuransi tradisional, mari kita bahas
asuransi non tradisional. Jenis asuransi non tradisional hanya satu
yaitu unit link.
Unit link ini merupakan asuransi dengan
dua kantong, kantong untuk proteksi dan kantung investasi. Uang premi
yang dibayarkan sebagian digunakan untuk membayar proteksi dan sebagian
lagi ditempatkan pada reksa dana dalam bentuk unit link.
Pemegang
polis akan diminta memilih di mana akan ditempatkan investasinya,
apakah pada reksa dana saham, reksa dana campuran, reksa dana
pendapatan tetap, atau pasar uang.
Unit link terkait erat dengan
pasar modal. Produk ini cukup rumit dan tidak mudah dipahami.
Sayangnya, banyak agen asuransi yang kurang menjelaskan dengan tepat
perihal produk ini. Ketika pasar modal turun, nilai unit link juga
akan turun. Sehingga seringkali proyeksi yang diberikan meleset dari
kenyataan.
Pada beberapa perusahaan asuransi yang menjual produk
unit link, ada pula yang tidak memberikan secara rinci mengenai kinerja
unit linknya dari bulan ke bulan. Jangankan kinerja, unit link
tersebut ditempatkan pada saham apa saja, banyak nasabah yang tidak
mendapatkan keterangan soal ini. Memang, sudah ada beberapa perusahaan
asuransi yang memuat kinerja unit link di situsnya sehingga dapat
dengan mudah diakses oleh para nasabah.
Jika Anda membandingkan
menempatkan dana yang sama dengan porsi yang ditempatkan pada unit
link, artinya sudah dikurangi oleh biaya premi, dengan ditempatkan
langsung pada reksa dana, maka hasilnya akan jauh lebih besar jika
ditempatkan pada reksa dana.
Kebanyakan perusahaan asuransi
menginvestasikan dana Anda sepenuhnya pada produk unit link pada tahun
ke lima. Untuk tahun pertama hingga ke lima, hanya sebagian saja yang
ditempatkan di unit link. Misalnya 0 persen pada tahun pertama, karena
pada tahun pertama dana habis untuk biaya akuisisi alias membayar bonus
agen. Tahun kedua porsi investasinya naik menjadi 20 persen, tahun
ketiga menjadi 40 persen dan tahun keempat 80 persen baru pada tahun
kelima menjadi 100 persen ditempatkan pada unit link.
Biaya premi
yang harus dikeluarkapun paling besar dibandingkan dengan premi
asuransi jenis tradisional. Nilai proteksinya hanya sedikit, paling
besar sekitar Rp 250 juta saja. Jika Anda sudah menghitung kebutuhan
asuransi Anda dan uang pertanggungan sebesar Rp 250 juta tidak memadai,
pertimbangkan untuk mengambil asuransi jenis lain.
Masalahnya,
jika Anda memerlukan proteksi sebesar Rp 1 miliar harus membayar premi
unit link yang sangat tinggi. Jangan sampai karena belum mampu membayar
premi unit link yang ditawarkan agen lalu menurunkan uang pertanggungan
sehingga Anda mengalami underinsure.
Pemegang
polis harus benar-benar memerhatikan dan mempelajari produk ini dengan
saksama dan banyak menyerap informasi agar tidak salah beli. Sudah
mengeluarkan uang dalam jumlah besar, mendapat pertangungan yang kurang
dari kebutuhan serta mendapatkan hasil investasi yang tidak maksimal.
Positifnya
asuransi jenis unit link adalah Anda dapat disiplin berinvestasi
secara berkala, baik bulanan maupun tahunan karena pembayaran investasi
ditagihkan bersamaan dengan pembayaran premi.
Nah, setelah
mengetahui jenis-jenis asuransi, pilihlah yang paling cocok dengan
tujuan keuangan Anda. Hitung dahulu kebutuhan asuransi, lalu tentukan
produknya.
sumber : kompas
Langganan:
Komentar (Atom)